Ada Saat Memanjakan, Ada Pula Saat Memarahi

Dalam banyak kesempatan, saya sering ditanya pernah memarahi anak atau tidak oleh kawan-kawan. Tentu saja saya menjawab bahwa saya pernah memarahi anak, bahkan mungkin sering, tergantung keadaan yang saya alami bersama anak.

Saat anak selalu berlaku manis, taat pada perintah dan nasihat-nasihat, serta tidak membuat kesalahan yang disengaja saya akan selalu berusaha baik padanya. Memberi pujian ketika anak berhasil melakukan suatu hal, walau sangat sederhana bagi kita orang dewasa, memberi semangat ketika anak merasa lemah, dan memberikan kehangatan ketika anak dalam keresahan.

Namun, bila anak melakukan suatu kesalahan berulang, berlaku nakal dan menentang nasehat, maka marahlah yang kuberikan. Karena kuingin, anakku dapat membedakan yang benar dan yang salah, membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak. Bukan anak yang tahunya semua hal boleh dilakukan, tanpa ada larangan dan peraturan. Bukan pula anak yang selalu dituruti kemauannya, hingga menjelma menjadi anak yang manja.

Anak-anak harus kita perkenalkan kepada hal-hal yang baik dan yang tidak, pendidikan anak akan hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, sehingga mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Memarahi pada saat anak berbuat kesalahan, adalah merupakan suatu nasehat. Asal marah dilakukan dengan cara yang tepat, tidak membabi buta, dan tahu alasan kenapa harus marah.

Marah pada tempat yang memang seharusnya marah, dan dengan kadar kemarahan yang sesuai dengan tingkat kesalahan anak, sehingga anak tahu bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Seperti ketika anak malas melakukan sholat, tidak mau melaksanakan perintah, tidak sopan kepada orang tua, dan berbuat tidak baik dengan kawan bermainnya.

Sebuah perlakuan yang tidak tepat bila kita melihat anak berlaku tidak baik, kita tetap memanggilnya dengan panggilan “anak sholeh”, dan membiarkan tindakannya dengan alasan memberi kebebasan. Namun tak tepat pula bila setiap perilakunya kita salahkan, karena dilakukan secara tidak sempurna. Kita harus mampu berusaha untuk memiliki rasa empati kepada anak, agar kita mampu menghargai eksistensinya. Kita harus memiliki kesadaran penuh, bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa, sehingga kita mampu memberikan pujian sekecil apapun kemampuannya melakukan sesuatu.

Pujian ketika anak berhasil melakukan suatu tindakan yang berguna, juga merupakan sebuah nasehat, asal pujian diberikan dengan tidak berlebihan. Kadang, dengan mengucapkan kata “anak mama pintar ya, Alhamdulillah”, anak sudah merasa gembira. Atau sekedar menempelkan ibu jari tangan kanan kita ke pipinya pun, sudah menjadi penghargaan tersendiri. Hingga anak selalu memiliki undangan untuk semangat, untuk lebih banyak tahu dan berani mencoba melakukan segala sesuatu.

Di sebuah TK, ada seorang anak yang selalu berbuat onar dan tak pernah mau dinasehati. Setiap hari membuat salah seorang atau beberapa orang temannya menangis, dengan segala ulahnya. Ketika dinasehati dengan lemah lembut oleh ibu gurunya, anak tak mau terima, kenakalannya bertambah dan semakin menjadi-jadi.

Setelah diselidiki, dan ditanyakan bagaimana kebiasaan anak tersebut pada ibunya, ibunya memberitahukan kepada para guru, bahwa anaknya tidak pernah dimarahi. Bila anak melakukan sebuah kesalahan, justru ibunya yang meminta maaf kepada anaknya, karena ibunya merasa bahwa anaknya melakukan kesalahan karena dia salah memberi tahu.

Perlakuan si ibu memang tidak sepenuhnya salah, dengan menyadari bahwa anak melakukan kesalahan karena ibu salah memberi tahu. Namun dengan tidak memberitahu anak bahwa perbuatannya salah, akhirnya membuat anak merasa selalu benar, dan tidak tahu hal-hal yang salah, hingga diapun menginginkan kawan-kawan dan ibu guru di sekolahnya melakukan hal yang sama “minta maaf kepadanya” ketika dia melakukan kesalahan, seperti yang dilakukan ibunya.

Anak yang lain, dalam kondisi yang sebaliknya. Dia selalu murung, dan bahkan pada saat acara bernyanyipun dia tidak ceria seperti teman-temannya. Senang melamun, dan tak pernah selesai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, seakan tak punya semangat apa-apa.

Setelah ditanyakan, tantenya bilang bahwa setiap hari anak ini dimarahi ibunya. Apapun yang dikerjakan anak, selalu dianggap salah dan ibunya selalu marah. Tak pernah rasanya, ibunya memberi pujian, menghargai hasil karya anaknya. Akhirnya, anak selalu murung dan kehilangan keceriaan. Merasa tidak ada artinya apa-apa dihadapan ibunya.

Dua kasus tersebut memberikan pengajaran kepada kita, bahwa tak pernah memarahi maupun memarahi terus anak-anak, bukanlah cara yang tepat. Cara mendidik anak yang baik adalah keseimbangan, ada saat memarahi, adapula saat memanjakannya, hingga anak-anak kenal yang haq dan yang bathil, kasih sayang dan perhatian.


About this entry