Efek Negatif Mengisap Jempol Pada Anak

Semua bayi mempunyai insting untuk menghisap apa pun yang menyentuh mulutnya. Kemampuan ini diperlukan agar bayi dapat menghisap ASI. Bagi bayi, menghisap-hisap jari dan kepalan tangan membuatnya merasa tenang dan nyaman. Lagi pula jempol adalah benda yang selalu setia setiap saat dan tentunya lebih higienis daripada dot atau pun empeng.

Pada sekitar usia satu tahun bayi mulai sesekali merasakan keluar dari perlindungan orang tua. Ia mulai dapat membedakan orang lain selain ayah dan ibunya, ia juga mulai mengenal dunia luar, selain lingkungan yang biasa ia kenal. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat bayi merasa tidak nyaman dengan sesuatu yang dianggap asing. Hal itulah yang membuat bayi mulai memiliki kebiasaan unik, misalnya ada yang selalu memeluk boneka beruang ke mana pun ia pergi, ada yang selalu mengelus-elus selimut kesayangannya, bahkan ada yang menghisap-hisap jempol. Bagi anak, jempol adalah sahabat setia yang selalu menemaninya setiap saat, meskipun harus berpisah dengan orang tuanya. Anak membutuhkan rasa nyaman pada saat ia cemas, sedih, uring-uringan, lelah atau bosan.Kebiasan menghisap jempol pada anak, sebenarnya bukan sesuatu yang harus dirisaukan orang tua, selama anak menghisap jempol hanya pada waktu-waktu tertentu, karena ada anak yang menghisap jempol sepanjang waktu, sehingga membuat jempolnya pucat dan keriput. Walaupun demikian menghisap jempol sebaiknya disikapi dengan tenang oleh orang tua, karena sikap orang tua yang berlebihan, hanya akan membuat anak semakin tidak nyaman dan tertekan. Anak hanya akan semakin betah dengan kebiasaannya atau justru memberontak.

Dampak Negatif Menghisap Jempol

Kebiasaan menghisap jempol yang terus menerus sepanjang hari atau yang berlanjut hingga bayi berusia tiga tahun dapat berdampak negatif terhadap proses tumbuh kembang anak.

Pertumbuhan gigi dan kemampuan bicara anak dapat terganggu. Begitu juga dengan makanan, anak bisa mempunyai masalah gizi jika ia lebih menyukai jempolnya ketimbang makanan. Apalagi jika kebiasaan ini berlanjut hingga saat gigi permanen mulai tumbuh (sekitar usia enam sampai tujuh tahun). Jika pada usia ini anak masih menghisap jempol, dapat menyebabkan gigi bagian atas mencuat ke depan (tonggos), dan gigi bagian bawah akan mengarah ke dalam mulut. Susunan gigi seperti ini akan membuat pemiliknya kesulitan untuk menggigit makanan, karena jarak antara gigi atas dengan gigi bawah berjauhan. Selain itu anak yang mempunyai kebiasaan menghisap jempol, akan enggan melatih kemampuan bicaranya dan masalah gizi karena ia lebih menyukai jempolnya daripada makanan.

Pada usia balita, rahang anak masih dalam proses pembentukan, tulang rahang anak belum kuat. Rahang anak dapat dengan mudah berubah susunannya karena tekanan akibat hisapan jempol. Menghisap jempol berlebihan dapat menyebabkan kelainan pada langit-langit mulut. Langit-langit mulut dapat menjadi terlalu sempit dan berakibat gigi tumbuh karena sempitnya rahang. Jadi, waspadai jika anak masih memiliki kebiasaan menghisap jempol setelah anak berusia tiga tahun.

Tips menghentikan anak menghisap jempol :

  • Melibatkan anak dalam kegiatan yang memerlukan kedua tangannya, misalnya ajak anak untuk melukis dengan tangan, bernain lilin mainan, bernain ayunan, kejar-kejaran, atau aktifitas lainnya.
  • Kita sebagai orang tua bisa saja membujuk anak siang dan malam agar anak berhenti menghisap jempol, namun ada orang-orang yang kata-katanya akan dipatuhi si kecil, misalnya ibu guru, ibu dokter, nenek, kakek atau siapa saja yang kata-katanya dianggap sakti oleh anak. Rasanya, anak akan menurut jika dokter gigi yang berkata, “Nisa, kamu tidak boleh menghisap jempol lagi, ya! Nanti gigimu bisa jadi tonggos sayang, nanti Nisa tidak cantik lagi, bagaimana?”
  • Jangan memaksa atau mengancam anak, karena hanya akan membuat anak ngambek. Sebaiknya ciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk meninggalkan kebiasaannya, misalnya mengingatkan dengan bahasa yang lemah lembut mengenai dampak dari kebiasaannya menghisap jempol.
  • Tanamkan pada diri anak, bahwa ia bukan bayi lagi, jangan mengolok-olok anak jika ia lupa dan masih menghisap jempolnya. Sebaliknya pujilah kemampuan baru anak, misalnya, “Wah anak bunda sudah besar, sudah bisa memakai baju sendiri. Subhanallah!” Ini diharapkan agar anak tersugesti bahwa ia sudah besar.
  • Buat mulut anak sibuk, ajak anak bercakap-cakap, bernyanyi, meniup balon, atau alat musik tiup, beri anak cemilan yang sehat, susu dan jus dengan menggunakan sedotan agar tidak cepat habis.
  • Jika kebiasaan anak tidak bisa berhenti seketika, berikan batasan-batasan secara bertahap yang semakin lama semakin berkurang. Misalnya adek boleh menghisap jempol jika mau tidur saja.
  • Lumuri jempol anak dengan sesuatu yang pahit dan tidak beracun, yang tidak disukai anak. Misalnya dengan brotowali bahan untuk jamu.
  • Jadilah sahabat yang baik bagi anak, yang siap mencurahkan perhatian dan kasih sayang
  • Jika masih gagal juga, sebaiknya konsultasi ke dokter anak dan dokter gigi.

About this entry